Aside
0

 

Rani Diky Chandra:

“Srikandi yang Peduli Masyarakat”

rani-2

Lembut dalam bertutur kata, tegas dalam berprinsip, itulah sosok Rani Permata Diky Chandra. Tidak hanya cantik, Ibu Wakil Bupati Garut periode 2009-2014 ini juga dikenal berjiwa sosial tinggi. Namanya selalu dikaitkan dengan beragam aktifitas kemanusiaan. Mulai dari memimpin lembaga yang menangani anak-anak kurang mampu, membantu penderita thalasemia, menanggulangi korban bencana alam, memberantas buta huruf, hingga memberdayakan perempuan dan anak terkait masalah trafficking dan KDRT. Totalitasnya dalam mengabdi pada masyarakat  membuatnya rela ‘mengamen di jalanan’ untuk menggalang dana bantuan. Di usia muda, Rani mampu menunjukan teladan kepemimpinan seorang perempuan yang multiperan. Penerima Penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI tahun 2011 ini tidak hanya berperan sebagai istri dan ibu, juga pelopor perjuangan bagi lingkungan sekitar. Semangat dan keterbukaannya untuk membantu sesama membuatnya pantas mendapatkan gelar ”Srikandi” Kota Garut.

Masih tergores dalam lembar memori kita saat Garut Selatan menangis. Banjir bandang melanda, tidak hanya merenggut korban jiwa namun juga menyisakan ratusan manusia yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Tanpa ragu, apalagi menunda waktu, Rani dengan sigap tampil di depan. Mengajak semua lapisan masyarakat untuk bergegas mengulurkan tangan. Bukan dengan perintah, tapi dengan langsung memberikan teladan. Ia bahkan rela ‘mengamen’ ke pasar-pasar, restoran, dan tempat-tempat lainnya demi menghimpun dana bantuan. Hal yang sangat langka atau bahkan mungkin tak pernah ada dalam catatan perjalanan seorang istri pejabat manapun sebelumnya.

rani-1Bencana datangnya tak terduga. Kita tak bisa selalu bergantung kepada bantuan pemerintah yang prosesnya panjang dan harus melewati banyak hambatan birokratis. Seringkali sudah lewat dua tahun, anggaran baru turun. Padahal korban harus ditangani segera. Satu-satunya pilihan adalah inisiatif, menggalang bantuan secara swadaya bersama masyarakat,” tutur Rani.

Garut memang salah satu kabupaten yang termasuk rawan bencana. Begitu banyak potensi bencana alam, dari mulai banjir, longsor, gempa, hingga tsunami. Wajar kalau selama menjabat sebagai Ibu Wakil Bupati, fokus perhatian Rani lebih banyak pada masalah tersebut. Bagi Rani, masalah bencana adalah tanggungjawab semua pihak. Berbeda dengan umumnya birokrat yang kadang bereaksi lamban dengan dalih  menunggu anggaran pemerintah, Rani justru bersikap proaktif. Begitu mendengar ada bencana, ia langsung turun tangan ke lapangan saat itu juga. Bahkan tidak jarang ia rela mengeluarkan dana pribadinya untuk bisa segera menangani korban.  ”Jadi tidak benar kalau ada yang bilang apa yang saya lakukan itu mudah, tinggal ’ngaleketek’ suami, maka anggaran turun. Pada kenyataannya saya justru lebih banyak mencari dana sendiri bersama rekan-rekan dari komunitas seni. Salah satunya ya dengan mengamen door to door. Memang hasilnya tidak banyak, tapi berapapun dana yang didapat tentu sangat berarti untuk meringankan derita para korban!” ujar Rani.

Apa yang Rani lakukan dalam beragam kegiatan kemanusiaan memang membuka ruang tersendiri di hati masyarakat Garut. Dukungan mengalir dari berbagai pihak. Meski begitu, Rani menyadari bahwa apa yang ia lakukan untuk masyarakat tidak selamanya mendapatkan respon positif. Selalu saja ada suara-suara miring yang meragukan kesungguhannya dalam berkarya. Masih ada segelintir kalangan yang menganggap apa yang Rani lakukan hanya sekedar cari popularitas dan reputasi baik, atau sekedar berkampanye. Padahal baginya, kerja sosial adalah panggilan hati.

“Sama sekali tak ada niatan politis. Saya dan suami berasal dari kalangan selebriti, jadi popularitas rasanya sudah bukan tujuan lagi. Semua yang kami lakukan merupakan implementasi tanggung jawab dan rasa kadeudeuh terhadap warga.” tegasnya.

Ikhlas, itu kuncinya dalam memaksimalkan peran di masyarakat. Keraguan dan pandangan sinis dimanfaatkan sebagai cambuk agar terus bekerja dengan lebih sungguh-sungguh. Tak heran bila Rani tak segan turun ke pelosok-pelosok kampung, bahkan yang terpencil sekalipun, demi menyentuh warga dengan uluran kasih. Mempelopori program trauma healing adalah salah satu wujud komitmennya memenuhi panggilan nurani. “Kita tidak bisa mengganti keluarga yang meninggal, atau harta yang sudah hilang. Tapi kita bisa memberi penghiburan, berdialog dari hati ke hati, meyakinkan bahwa bahwa mereka tidak sendiri.”

Dedikasinya dalam bidang sosial budaya telah mengantarkan Rani meraih beragam penghargaan. Diantaranya Garut Award 2010, Piagam Bupati 2010, Honorary Police dari Kapolwil 2009, dan penghargaan dari Forum Anak Daerah sebagai ‘indungna barudak garut’. Bahkan saat ini masuk daftar penerima Satya Lancana Kebaktian dari Presiden RI. Namun menurut Rani, itu semua bukan tujuan. “Berbagi kasih bukanlah suatu kelebihan. Itu adalah rasa paling hakiki yang sudah seharusnya dimiliki setiap orang.”

 SOSOK YANG MENCINTAI SENI

Rani Permata lahir di Ciamis pada tanggal 20 Oktober 1977. Masa kecilnya dihabiskan di Bandung. Menginjak SD kelas 5, ia pindah kembali ke kota kelahirannya di Ciamis. Setelah itu, ia menamatkan SMP dan SMA di Tasikmalaya. Ayah bundanya berasal dari Ciamis, dan masih punya hubungan darah dengan Abah Anom, tokoh ternama dari Pesantren Suryalaya. Abah Anom adalah kakak dari kakeknya. Itulah alasan keluarga Rani memiliki latar belakang agama yang kuat. Perpaduan seni dan agama menciptakan ‘rasa’ dan nilai yang menjadi fondasi dalam membentuk karakter dan mengarahkan filosofi hidup Rani di masa depan.

Dunia seni merupakan hal yang tak terpisahkan dari sosok Rani Permata. Sebelum menjadi ibu Wakil Bupati (wabup) Garut, Rani telah lebih dulu berkecimpung di dunia entertainment. Sosoknya kerap memenuhi layar kaca. Kini, setelah mendampingi suami menjadi Wabup, jiwa seni itu masih mengalir kental. Ia pun membentuk karya nyata yang memadukan seni dengan kegiatan kemanusiaan dalam satu harmoni. Salah satunya “Tasyakur Saba Desa”, sebuah acara hiburan seni sunda yang membaurkan unsur tradisional dan modern, yang dikemas dengan kegiatan bakti sosial, seperti pengobatan gratis, dan sebagainya. Ternyata hasilnya sangat efektif dibanding media ceramah atau himbauan. “Sebab seni bersifat universal. Bisa diterima semua pihak dari lintas agama, budaya, dan golongan.”

Kecintaan Rani pada seni tidak terlepas dari catatan masa kecilnya. Ia dibesarkan di lingkungan yang mengenalkan apresiasi pada karya dan keindahan. ”Bagi saya seni adalah bagian dari jiwa, sama halnya dengan agama. Jadi mempelajari seni tidak harus kemudian melupakan akhlaq. Seni justru bisa dijadikan sarana untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta!”

SEMPAT MENGALAMI DEPRESI

Berada dalam naungan keluarga yang masih memegang adat jaman baheula, terkadang ada dukanya. Salah satunya adalah masalah perjodohan. Selepas SMA, Rani tidak sempat meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi karena sang ibunda memintanya untuk segera menikah. “Waktu ibu meminta saya untuk menikah, saya sempat kaget. Bagaimana tidak, waktu itu umur saya belum genap 16 tahun. Membina rumah tangga sama sekali belum terbayangkan!” kenang Rani.

Ibarat berdiri di persimpangan, Rani harus memilih jalan mana yang akan ditempuh. Ia paham sepenuhnya bahwa pernikahan berarti ia harus melepas cita-citanya untuk kuliah. Tapi disisi lain ia pun tidak mau mengecewakan hati sang ibunda.  Akhirnya, meskipun dengan berat hati, Rani memilih jalan kedua, menerima usulan orang tua. Selepas lulus SMA ia pun dinikahkan.

Kebersamaan yang dijalin dari benang-benang keterpaksaan hanya akan menghasilkan ikatan yang rapuh. Ditambah usia muda yang menjadikannya terasa seribu kali lebih berat. Rani telah mengerahkan segenap kemampuan untuk menjadi sosok istri yang ideal. Tapi rupanya Allah SWT punya rencana lain. Biduk pernikahan itu pada akhirnya harus kandas di tengah jalan. Padahal waktu itu sudah lahir seorang momongan.

Siapapun sepakat bahwa perceraian adalah hal terberat yang dirasakan setiap pasangan yang pernah menikah. Jangankan orang yang masih sangat belia, orang yang sudah dewasa pun kerapkali tidak mampu menahannya. Jadi wajar bila Rani sempat mengalami tekanan batin. “Saya punya kebiasaan buruk, kalau lagi depresi, pinginnya makan terus. Kesedihan dan sakit hati dilampiaskan pada makanan. Akibatnya berat saya melonjak hingga 78 kg!” kenang Rani.

”Setiap cobaan yang kita alami, sebenarnya adalah sebuah bentuk ujian dari Yang Maha Kuasa.  Ketika kita mampu melewatinya, berarti kita lulus dan berhasil naik satu tingkat di mata Allah SWT.”

     Depresi berat pasca perceraian membuatnya harus menjalani terapi psikologis. “Waktu itu saya sempat terapi di Bandung. Karena saya tinggal di Tasik, jadinya harus bolak-balik. Saya bahkan sempat di rawat di rumah sakit cukup lama. Akibatnya berat badan jadi turun drastis hingga 48 kg.”

Di saat inilah tiang-tiang keyakinan pada agama yang telah terpancang sejak kecil, menopangnya untuk tetap berdiri tegak.Ditambah suntikan spirit dari keluarga, Rani pun bisa melewati kerikil tajam pada akhirnya. “Perlahan saya berangsur pulih. Derita batin memang sulit disembuhkan.       Tapi keyakinan pada Allah membuat saya bisa kembali menjalani kehidupan. Saya sadar bahwa setiap cobaan sebenarnya adalah sebentuk ujian. Ketika kita mampu melewatinya, kita lulus dan berhasil naik satu tingkat di mata Allah SWT,” jelasnya.

Selalu ada hikmah dibalik suatu peristiwa. Cobaan tak semestinya menenggelamkan seseorang dalam duka. Justru menjadi cambuk agar terus berjuang memperbaiki diri. Usia Rani masih muda, begitu banyak hal yang ingin di raih. Ia boleh jatuh, tapi langkah tak semestinya terhenti. Life must go on.

Keyakinan ini mendorong Rani untuk mengumpulkan kembali serpihan hidupnya yang sempat tercecer. Menyusunnya kembali menjadi utuh. Langkahnya dimulai dengan merawat diri. “Waktu itu badan saya sempat gembyong. Dari gendut mendadak kurus. Jadi saya ikut aerobik dan senam. Alhamdulillah berat badan kembali normal. Saya pun mulai bersosialisasi. Bertemu banyak orang hingga perlahan bisa memulihkan kepercayaan diri,” katanya.

MENEKUNI DUNIA SENI

Ketika satu pintu tertutup, jendela lain terbuka. Pernikahan yang telah berakhir menjadi pembuka jalan bagi Rani untuk mewujudkan cita-cita yang sudah dipendam sejak lama. Ia ingin mengasah talenta dengan berkiprah di dunia seni. Ia pun pindah ke Jakarta dan mulai merintis karir di dunia modeling. Tidak mudah, sebab persaingan begitu ketat. Terlebih Rani harus membagi waktu antara karir dan anak.

Bayangkan, saya single parent, yang harus memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Di satu sisi saya dibutuhkan oleh anak, di sisi lain juga harus bekerja mencari nafkah. Cukup repot dan lelah dalam membagi energi dan emosi. Tapi seberat apapun tetap saja jalani,” tuturnya.

Keterbiasaannya mandiri sejak kecil membuat Rani tak terlalu kaget manakala ia harus banting tulang untuk membiaya hidupnya, termasuk menjadi tumpuan ekonomi keluarga. “Sebetulnya Mama saya punya bisnis salon. Tapi hasilnya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Jadi sejak kecil saya sudah mencari uang sendiri, single fighter-lah,” katanya tersenyum.

Rani-3

Dengan kerja keras dan kesungguhan, upaya Rani meniti karir di dunia modeling pada akhirnya menunjukan tanda terang. Job berdatangan, dari mulai meniti catwalk sebagai model busana, hingga bintang iklan berbagai produk fesyen dan kecantikan. Sayangnya, glamoritas dunia model tidak selalu menawarkan kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai yang telah mengakar dalam jiwanya.

“Dunia model itu banyak sekali godaannya. Meski saya sudah dibekali pendidikan agama yang kuat, tetap saja godaan tidak bisa ditepis. Saya takut nanti terbawa arus negatif. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti dan mencari peluang di ranah lain!”

DARI NYANYI KE SINETRON

Setelah bulat meninggalkan karir modeling-nya, Rani mulai menjajaki peruntungan di bidang tarik suara. Ternyata di di bidang ini pun ia punya talenta yang cukup besar. Beberapa penyanyi dan musisi ternama tertarik untuk bekerjasama. “Waktu itu saya sempat dibimbing oleh Kang Doel Sumbang, Dedi Dores serta artis pop dangdut, Fahmi Sahab!” kenangnya.

Perlahan tapi pasti dunia tarik suara menjanjikan kepastian masa depan. Berbagai tawaran rekaman terus berdatangan. Sayangnya, kembali ia menemui hambatan. Ternyata dunia tarik suara pun banyak godaannya.Contohnya, ia pernah ditawari kontrak rekaman selama 4 tahun, dengan iming-iming apartemen dan mobil mewah. Tapi syaratnya harus mau jadi istri simpanan sang produser. Tanpa berpikir dua kali, Rani langsung menolak!

rani-4

“Sebagai perempuan, kita harus punya prinsip. Setinggi apapun karir dan kekayaan yang ditawarkan, kalau itu bertentangan dengan tata susila dan hati nurani, lebih baik ditolak. Saya yakin rejeki itu ada dimana saja, tidak perlu takut miskin!” tegasnya.

Dengan prinsip ini, Rani pun memutuskan bertransisi dari nyanyi ke akting. ”Awalnya hanya ikut-ikutan. Saya mengantar teman ke Jakarta untuk casting sebuah sinetron. Ternyata saya yang berhasil, sementara teman malah gagal!” kata Rani tersenyum. “Mungkin karena hanya coba-coba, jadinya saya berakting tanpa beban. Saya bisa tampil lebih natural, sehingga mereka memilih saya.

Bidang seni peran akhirnya menjadi pelabuhan Rani dalam menyalurkan bakatnya untuk berkarya. Beberapa film pernah dibintanginya. Diantaranya ’Antara Cinta dan Dusta’, ’Arjuna Mencari Cinta’, ’Madu dan Racun’, ’Pilar-Pilar Kasih’, dan banyak lagi. Waktu itu ia sempat beradu akting dengan artis-artis ternama seperti Ponco Buwono, Bella Shafira, Dede Yusuf dan sebagainya.

“Dunia akting adalah titik balik dalam hidup saya. Setelah itu karier dan kehidupan saya bergulir dalam alur yang tidak pernah saya sangka.” tutur Rani.

KEPINCUT ”SANG ARJUNA”

Pada tahun 1999, Rani di minta untuk syuting sebuah sinetron yang berlokasi di Yogyakarta. Ia tidak pernah tahu bahwa dari sinilah arah mata angin itu berawal. Ia bertemu untuk pertama kalinya dengan R. Diky Chandra, bintang utama sinetron tersebut.

Awalnya Rani menganggap Diky hanya sebagai partner bermain. Tidak ada pemikiran lain. Apalagi nama Diky Chandra sudah sangat dikenal, siapapun pasti ingin dekat dengannya. Namun, rupanya Tuhan sudah menetapkan garis takdir bahwa Diky akan menjadi pasangan jiwanya. Ketika mengambil salah satu adegan dimana Rani harus beradu akting berdua dengan Diky, sutradaranya sempat mengomel, ”Kamu itu gimana sih, Ran! Aktingnya lebih mesra dong! Kalau kamu cuek-cuek seperti itu, chemistry-nya jadi nggak dapet!”

”Waktu itu, skenario memang menuntut saya beradegan pacaran sama si Aa (panggilan mesra untuk Diky). Jadi untuk mendalaminya saya terpaksa memberanikan diri untuk kenal lebih dekat. Eh, ternyata dia senang banget didekati. Apalagi sewaktu tahu kami berdua sama-sama berasal dari Tasik, hubungan jadi lebih akrab!” kenang Rani sambil tersenyum.

Rani sama sekali tidak menyangka Diky Chandra akan melamarnya. Yang Rani ingat, setelah keduanya kenal dekat, Diky sempat bilang ke sutradara bahwa syuting harus sudah beres sebelum tanggal 1 Juli. Sang sutradara pun heran, “Memangnya kenapa?” Diky menjawab, ”Saya mau nikah!” ”Nikah sama siapa?””Sama Rani!” jawab Diky.

Tentu saja semua orang kaget dengan keputusan mendadak tersebut. Rani dan Diky baru berkenalan selama syuting saja. Kok langsung mau nikah?

”Saya sempat bimbang waktu si Aa mengutarakan keinginan melamar. Apa tidak terlalu cepat? Kami kan baru kenal 40 hari, ya selama syuting di Jogja itu lah. Saya jadi bingung menjawab. Bagaimana tidak, saya sudah punya anak satu yang perlu mendapat perhatian. Kalau ditambah punya suami, apa saya akan bisa membagi waktu yang cukup untuk keduanya?” tutur Rani mengenang.

Untuk menjawab kebimbangannya, Rani meminta komitmen Diky untuk tidak hanya menyayangi dirinya, tapi juga menyayangi putranya. Kalau memang Diky tidak bisa, lebih baik ia menolak dari awal. Rani tidak mau dipermainkan karena sudah punya pengalaman pahit di masa lalu.

”Awalnya saya sempat meragukan cinta si Aa. Maklumlah di kalangan selebriti cinta itu sudah seperti komoditi yang bisa diperjualbelikan. Tapi kemudian si Aa bilang bahwa ia sebenarnya sudah naksir saya sejak SMP. Ternyata dulu kami pernah satu SMP, tapi karena saya kelas satu sementara ia kelas tiga, jadinya tidak pernah saling kenal. Katanya ia sering ngeliatin saya dari jauh. Jadi sebenarnya si Aa sudah tahu semua tentang saya. Ia belum berani melamar karena belum punya penghasilan tetap. Wah, jadi terharu,” kenang Rani sambil tersenyum.

Rani pun menjadi yakin bahwa Diky Chandra memang mencintainya sepenuh hati. Apalagi sang pujaan hati berjanji untuk memberikan komitmen padanya dan putranya dengan sungguh-sungguh. Lamaran pun diterima dan pernikahan dilangsungkan. Saat ini keduanya sudah dikaruniai empat orang putra.

MENJADI ISTRI WAKIL BUPATI

Peranan Rani di Kabupaten Garut dimulai ketika sang suami, R. Diky Chandra dilantik menjadi Wakil Bupati Garut Periode 2009-2014.  “Suami saya sempat mendapat telpon berkali-kali dari Pak H. Aceng Fikri yang waktu itu ingin mencalonkan diri jadi Bupati Garut.  Beliau meminta Bapak (Diky Chandra) untuk mendampinginya sebagai calon Wakil Bupati dari independen. Waktu itu sebenarnya Bapak sudah ditawari beberapa partai untuk menjadi calon mereka. Tidak hanya dari Garut tapi juga dari beberapa daerah lainnya. Tapi waktu itu Bapak lebih tertarik mengambil jalur independen. Apalagi saat itu H. Aceng Fikri mengatakan bahwa ia betul-betul berkomitmen ingin memperjuangkan Garut agar lebih baik!” Kata Rani.

Memutuskan untuk banting stir dari seorang profesi artis menjadi pejabat dan abdi masyarakat tentu bukanlah suatu hal yang mudah. Itu pula yang dirasakan oleh Rani dan suami. “Waktu itu kami sempat berdoa, Ya Allah, kalau ini memang amanah dari-Mu dan bisa menjadi ladang amal untuk berjihad,  maka muluskanlah jalan kami. Tetapi seandainya kesempatan ini hanyalah cobaan untuk keimanan kami, maka hindarkanlah kami darinya!” Ucap Rani mengenang doanya.

Sebenarnya waktu itu feeling Rani kurang begitu setuju bila suaminya menjadi seorang birokrat. Ia tahu, tantangan di dunia birokrasi sangat berat. Menjadi seorang pemimpin itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalankan. Kalau dulu Rani dan Suami hanya bertanggungjawab pada diri sendiri dan keluarga, tetapi saat menjabat, mereka punya beban tanggungjawab yang besar pada masyarakat. Tapi setelah dipikirkan dengan matang serta konsultasi dengan keluarga, akhirnya diputuskan untuk menerima tawaran dari H. Aceng Fikri tersebut.

“Waktu itu Bapak sebenarnya tidak terlalu berharap banyak untuk sukses dalam kampanye. Terpilih jadi Wakil Bupati itu tidak mudah. Persaingannya juga ketat sekali. Apalagi Bapak dari independen, tentu akan sulit bersaing dengan calon-calon lain yang didukung partai-partai besar yang sudah banyak pengalaman!” Ujar Rani.

Rupanya Tuhan memang sudah menggariskan R. Diky Chandra untuk memegang amanah sebagai orang nomor dua di Garut. Meskipun ada beberapa kalangan yang menganggap calon independen sebagai ‘underdog’  alias tidak diunggulkan, rupanya masyarakat berpikir sebaliknya. Pasangan H. Aceng Fikri, S.Ag dan R. Diky Chandra sukses memperoleh suara terbanyak pada Pilkada Kabupaten Garut.

“Alhamdulillah masyarakat ternyata mempercayai Bapak. Mungkin masyarakat Garut waktu itu sedikit ‘’bosan’ dengan para birokrat dan politikus akibat kasus korupsi sehingga kehadiran Bapak dan H. Aceng Fikri menjadi suatu alternatif pilihan layak dipertimbangkan!” Ujar Rani.

DUKUNGAN PENUH PADA SUAMI

Kehadiran Diky dan Rani selaku Wabup dan istri Wabup, menjadi ikon baru bagi masyarakat Garut. Selain keduanya pasangan yang serasi dan berusia muda, latar belakang selebriti menghembuskan angin segar tersendiri. Antusiasme menjadi lebih hidup di tengah-tengah masyarakat.

Di kalangan birokrat, keberadaan Wakil Bupati membuka mata semua orang bahwa birokrasi tidak selalu identik dengan kekakuan. R. Diky Chandra terbiasa memimpin rapat dengan gaya yang santai. Terkadang tidak segan melontarkan humor segar sehingga suasana pertemuan menjadi cair dan menyenangkan. Tidak ada lagi pejabat yang terkantuk-kantuk. “Bapak itu orangnya memang senang bercanda. Ia selalu memandang segala sesuatu dari sisi positif. Jadi kalau rapat atau pidato, tidak pernah kaku. Santai tapi tetap serius. Dan hasilnya ternyata jauh lebih efektif!” tutur Rani.

 Rani-5

Sebagai istri Wabup, Rani sadar betapa besar kewajiban yang harus dijalankan. “Ada saat-saat ketika kami merasakan tekanan yang sangat berat. Terutama bila sudah muncul berbagai kritikan tajam terhadap kepemimpinan Bapak maupun peranan saya sebagai istri. Kalau sudah begitu, tidak jarang kami menangis berdua!” ujar Rani.

Sebagai pasangan pemimpin yang berasal dari jalur independen, memang sulit bagi Bupati dan Wakil Bupati Garut untuk mendapat dukungan politis dalam menerapkan kebijakan. Banyak harapan yang tertunda karena tidak adanya dukungan dari wakil-wakil partai di DPRD. Meskipun begitu, cukup membanggakan bahwa saat ini banyak pencapaian yang telah dilakukan di Kabupaten Garut.

Keberadaan Diky dan Rani yang dulu berprofesi artis ternyata mampu mendorong peningkatan pariwisata Garut. Keduanya tidak kenal lelah memperkenalkan Garut ke tingkat nasional. Melalui pembuatan sinetron berlatar wisata Garut atau dengan mengundang para artis kenalan mereka untuk show dan berpariwisata di Garut. Dampaknya cukup besar. Pendapatan Kabupaten Garut (PAD) dari retribusi pajak naik hingga dua kali lipat! Infrastruktur jalan dan bangunan pun mengalami pembenahan dan renovasi sehingga menyedot lebih banyak wisatawan untuk datang ke Garut.

TAMPIL APA ADANYA

Sebagai orang baru di dunia birokrat, belajar dan beradaptasi adalah keharusan. Untuk itu Rani tidak malu bertanya. Ia pun belajar tata krama protokoler dan prosedur kerja, tanpa mengubah filosofi dan prinsip-prinsip dasar hidupnya. ““Saya ingin menunjukan bahwa menjadi istri pejabat bukan berarti harus ‘naik kelas’ menjadi sosok yang angkuh dan sombong.   Saya ingin tetap dikenal sebagai

Rani yang dulu. Rani yang terbuka, supel dan sederhana. Yang bisa bergaul dengan siapapun tanpa melihat status dan kedudukan!” tegasnya.

Rani mengaku, ia banyak belajar dari gaya kepemimpinan sang suami. Perannya sebagai istri Wabup tidak boleh menghilangkan citra Rani yang ‘membumi’. Tidak mau  neko-neko dan unggah adat hanya karena sudah jadi istri pejabat. Rani termasuk orang yang percaya, kedudukan dan jabatan hanyalah perhiasan dunia yang tidak kekal. Jadi ia tetap ingin tampil apa adanya. Terbuka, jujur dan tidak dibuat-buat. Dan ternyata lama-lama ia jadi tahu bahwa masyarakat Garut memang tidak menyukai hal yang terlalu serius dan protokoler.

Ada pengalaman menarik terkait ini. Sebagai istri Wabup, ia tentu didaulat menjadi Wakil Ketua PKK Kabupaten Garut. Suatu hari Rani diundang ke sebuah acara pertemuan PKK yang dihadiri ibu-ibu pejabat se-Garut. Kebetulan Ketua PKK-nya, Ibu Bupati, tidak bisa hadir. Alhasil Rani lah yang diminta untuk menyampaikan pidato pembukaan.

“Menjadi istri pejabat bukan berarti harus ‘naik kelas’ menjadi sosok yang angkuh dan sombong. Saya ingin tetap dikenal sebagai Rani yang dulu. Rani yang terbuka, supel dan sederhana. Yang bisa bergaul dengan siapapun tanpa melihat status dan kedudukan!”

         “Waktu diminta pidato, saya sempat gemetaran. Kalau dilihat dari usia, saya tampaknya anggota PKK paling muda, jadi bagaimana saya harus berpidato di depan para ibu pejabat yang lebih senior? Akhirnya saya mencoba memberanikan diri maju ke depan. Waktu itu, tidak sengaja saya nyeletuk di depan mic “Aduh..ngadegdeg, euy!” Kontan semua pada tertawa!” kenang Rani. “Tapi biarpun ngadegdeg, karena sudah berdiri di depan ya saya teruskan berpidato. Biar enak, saya memperkenalkan diri dengan bahasa Sunda, ‘Kenalkeun wasta abdi Rani, nami beken Rani Diky Chandra…….’ Pokoknya saya pidato seingatnya saja. Sempet malu juga, kok saya pidato kayak orang ngobrol kesana kemari, tidak jelas ujung pangkalnya! Tapi anehnya malah banyak yang memuji saya, katanya suka dengan gaya bicara saya hahaha.”

Tidak hanya masalah pidato, dalam bekerja Rani pun ingin tetap tampil bersahaja. “Saya tidak mau melakukan perintah dan instruksi. Saya lebih memilih pendekatan dari hati ke hati. Dengan begitu rekan kerja akan melakukan tugas-tugasnya dengan baik, bukan karena keterpaksaan.”

BERKARYA DI RANAH SOSIAL

Sejak jadi istri Wabup, kesibukan Rani terbilang luar biasa. Ketika mengikuti rangkaian Hari Jadi Garut misalnya, selama 8 hari, dari pagi sampai malam, ia berkeliling kesana kemari untuk menghadiri berbagai acara. Kadang sehari ada 5 sampai 6 acara yang harus ia hadiri. Dari mulai acara pagelaran seni hingga acara mengantar tamu ke berbagai objek wisata.

“Memang rasanya capek sekali. Untuk menggelar acara seperti ini butuh fisik yang luar biasa. Topografi Garut yang berupa pegunungan dengan medan jalan yang berat seringkali memaksa saya berjalan kaki menuju lokasi kegiatan hingga berkilo-kilo jauhnya. Padahal sebelum jadi istri Wakil Bupati, saya kemana-mana naik mobil pribadi. Tapi ketika jadi istri pejabat, malah lebih sering harus ‘asruk-asrukan’ ke berbagai pelosok daerah. Tapi ya inilah resiko sebuah pengabdian. Meskipun capek, saya mendapatkan kepuasan batin yang tidak bisa ditukar dengan apapun!” ujarnya.

Menurut Rani, Garut sampai saat ini masih masuk kategori daerah tertinggal. “Jadi masih banyak saudara kita yang hidupnya serba kekurangan. Siapa lagi yang bisa membantu mereka kalau bukan kita. Saya tidak mau duduk ongkang-ongkang kaki, sementara suara Tuhan terus memanggil, berbisik kepada nurani saya agar segera mengulurkan tangan, mengabdikan diri dalam pelayanan sosial.”

Komitmen Rani dalam kerja sosial diwujudkan dengan mendirikan Konsorsium Gerakan Rela untuk Mereka. Tujuannya untuk membantu memfasilitasi anak-anakyang membutuhkan bantuan dana kesehatan. Awalnya Rani membiayai lembaga ini dengan uang sendiri. Tapi karena masih belum mencukupi dana yang dibutuhkan, maka ia mencoba cara lain yaitu dengan menggalang dana dari masyarakat.

”Inilah resiko sebuah pengabdian kemanusiaan. Meskipun capek, tapi saya mendapatkan kepuasan batin yang luar biasa, yang tidak bisa ditukar dengan apapun!”

        “Saya senang menyanyi, jadi saya coba menggalang dana lewat nyanyian. Kebetulan waktu itu Ibu Kapolres dan Ibu Dandim juga punya hobi yang sama. Jadi kami membentuk trio vokal yang kami beri nama TRINIE. Kenapa diberi nama Trinie, karena kebetulan nama kami bertiga akhiran vokalnya sama. Saya Rani, Bu Kapolres namanya Leni sementara Bu Dandim namanya Yani, semuanya berakhiran ‘NI’,” ujar Rani tersenyum.

Untuk menggalang dana, TRINIE tidak segan berkeliling pasar untuk ‘mengamen’. “Kami menyanyikan berbagai lagu, termasuk ciptaan suami saya. Pak Diky memang sengaja mencipta beberapa lagu yang semuanya bertemakan kemanusiaan dan semangat Garut. Alhamdulillah, meskipun suara kami pas-pasan, ternyata reaksi masyarakat cukup baik. Meskipun tidak besar, dana yang dihasilkan dari kegiatan ngamen tersebut bisa mendanai anak-anak yang butuh bantuan kesehatan!”

Kegiatan ‘ngamen’ tersebut sampai saat ini terus digalang secara rutin oleh Rani dan kawan-kawan. Tidak hanya di kota Garut, tapi sampai ke pelosok kecamatan. Sampai saat ini dana yang terkumpul sudah mampu membantu ratusan anak-anak yang membutuhkan uluran kasih. Termasuk dana untuk membiayai operasi anak yang terkena tumor, kaki gajah, dan berbagai penyakit berat lainnya.

Peranan Rani tidak cukup sampai disitu. Untuk melaksanakan cita-citanya mensejahterakan rakyat, ia juga aktif di lembaga-lembaga sosial. Diantaranya dengan menjadi Ketua Yayasan Thalasemia Indonesia cabang Garut. Jabatan ini ia sandang karena ia merasa prihatin bahwa saat ini Garut memiliki angka penderita thalasemia tertinggi di Jawa Barat. Setidaknya di Garut sudah ada 193 orang yang terindikasi menderita penyakit ini, kebanyakan masih anak-anak dan remaja.

“Sebagai ketua, saya tertantang untuk membantu meringankan beban mereka. Apalagi sampai saat ini thalasemia belum ada obatnya. Untuk menekan penyakit ini, penderita harus transfusi darah seumur hidup, setiap hari harus disuntik dan minum obat. Transfusi dan obat-obatan yang diberikan sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh kebanyakan penderita!” tutur Rani.

Rani-6

Berkat kerja keras Rani dan rekan-rekannya di Yayasan Thalasemia, saat ini sudah ada kesepakatan antara seluruh Kepala Puskesmas se-Kabupaten Garut untuk membantu biaya transportasi para penderita thalasemia yang akan melakukan transfusi darah. Rani juga mengupayakan agar RSU Garut menyediakan ruangan khusus untuk transfusi penderita thalasemia sehingga mereka tidak perlu antri di IGD untuk mendapatkan pelayanan.

“Untuk program ini saya sengaja mencari dana dari luar karena sampai saat ini Pemda belum mampu membiayai. Saya mengumpulkan teman-teman untuk menjadi donatur tetap. Saya juga keliling door to door untuk menggalang bantuan dari masyarakat, termasuk dengan cara ‘mengamen’ tadi!” Kata Rani.

MEMBELA KAUM PEREMPUAN

Sejak jadi istri pejabat, salah satu fokus kegiatan Rani adalah pemberdayaan kaum perempuan. Rani yakin bahwa kunci peningkatan kesejahteraan masyarakat salah satunya ada di tangan perempuan. “Kaum perempuan adalah fondasi keluarga. Kalau mereka berdaya, mampu menambah pendapatan keluarga serta memiliki keinginan untuk maju, maka dengan sendirinya kesejahteraan bisa meningkat!”

Itulah sebabnya, selain aktif di Yayasan Thalasemia, Rani juga aktif sebagai Penasehat P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak). Sejak tergabung di lembaga ini, sudah lebih dari 70 kasus yang menimpa perempuan dan anak-anak ditangani. Sebagian besar adalah kasus trafficking (perdagangan manusia), kekerasan rumah tangga, serta penyimpangan seksual.

“Sungguh mengerikan apa yang menimpa para korban. Mereka berada pada posisi yang lemah sehingga kalau tidak di advokasi, apa yang terjadi pada mereka tidak akan bisa diselesaikan secara moral maupun hukum. Kaum perempuan dan anak-anak adalah kunci pembangunan. Sudah selayaknya kita memberikan perhatian lebih pada mereka karena di tangan merekalah masa depan kita dipertaruhkan!” Ujar Rani.

Untuk menekan kasus kekerasan dan perdagangan manusia ini, Rani dan kawan-kawannya aktif membangun jejaring dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk menggalang dana bantuan dari para pengusaha di Garut. “Saya bercita-cita suatu saat Garut memiliki Shelter Multiguna, semacam kantor satu atap yang menghimpun orang-orang dari beragam profesi seperti dokter, psikolog, dan konsultan hukum. Kalau suatu saat kita punya fasilitas seperti ini, korban KDRT dan trafficking bisa langsung ditangani dari sisi kesehatan dan psikologis, termasuk mendapatkan advokasi agar kasus mereka bisa diselesaikan secara hukum!” Kata Rani.

MENCONTOH PERJUANGAN RADEN AYU LASMININGRAT

Perjuangan Rani salah satunya terinspirasi dari tokoh perempuan bernama RA Lasminingrat. “Sebenarnya kaum perempuan Garut harus bangga karena kita pun punya pahlawan yang sehebat RA Kartini. Namanya Raden Ayu Lasminingrat. Mungkin nama beliau belum banyak dikenal, tapi jasa-jasanya sudah sangat banyak bagi tanah air kita khususnya Garut!”

Rani mengenal nama RA Lasminingrat dari salah satu perpustakaan di Australia. “Beliau ini asli orang Garut. Lahir pada tahun 1843 dan wafat pada usia 105 tahun. Sempat menulis buku cerita yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda sehingga di luar negeri, nama beliau cukup dikenal. Sementara di Garut sendiri belum banyak yang tahu!”

Meskipun kurang di kenal, sebenarnya jejak-jejak kepahlawanan RA Lasminingrat masih bisa dilihat hingga kini. Misalnya pernah mendirikan Sekolah Pertemuan Istri yang sekarang menjadi SD Regol VII. Beliau juga pernah mewakafkan tanahnya untuk babancong alun-alun Mesjid Agung Garut.

“Jasa-jasa beliau sungguh tak ternilai. Itulah sebabnya saya mengabadikan namanya dengan mengubah nama Gedung Wanita menjadi Gedung RA Lasminingrat. Saya juga mengumpulkan kliping dan buku-buku tentang beliau yang saya dapat dari Perpustakaan Nasional Australia. Mudah-mudahan suatu saat beliau bisa diakui menjadi salah satu pahlawan nasional!” Kata Rani.

Rani berharap, kaum perempuan Garut pun punya semangat yang sama seperti RA Lasminingrat. “Kita harus tetap melangkah maju. Menjadi sumber kekuatan dalam kehidupan yang kita jalani. Bagi saya, kekuatan terukur dari seberapa banyak kita bisa menopang orang lain. Itulah kekuatan yang seyogyanya dicita-citakan oleh semua perempuan.”

 

Rani-7

 

MENANGGAPI PENGUNDURAN DIRI SANG SUAMI

Kepedulian Rani Permata terhadap masyarakat Garut sudah tidak disangsikan lagi. Itulah sebabnya ketika R. Diky Chandra secara mendadak menyatakan pengunduran diri beliau dari jabatannya sebagai Wakil Bupati, banyak kalangan yang terkaget-kaget. Tidak hanya warga Garut, keputusan ini juga menyedot pemberitaan seluruh media nasional.

Rani sendiri juga ternyata sempat kaget saat diberitahu hal ini secara pribadi. ”Saya sebenarnya tahu bahwa suami saya sejak lama cukup tertekan dengan posisinya sebagai Wakil Bupati. Akhir-akhir ini ia tampak sering termenung, banyak tafakur dan berzikir. Tapi saya tidak pernah menyangka demikian berat masalah yang beliau hadapi sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri!”

Meski sempat kaget, sebagai istri yang baik, Rani tentu mendukung apapun keputusan sang suami. Baginya jabatan adalah amanah. Kalau memang amanah tersebut berpotensi menimbulkan fitnah, maka pengunduran diri bisa menjadi jalan terbaik. Ia berkaca pada sejarah cucu Baginda Rasulullah, Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang rela meletakan jabatannya dan menjadi rakyat biasa agar jabatannya tersebut tidak membawa fitnah yang akan berdampak buruk bagi masyarakat.

”Suami saya berpegang pada keyakinan bahwa mundur dari jabatan untuk menghindari kerusakan adalah lebih utama daripada mengharapkan kebaikan yang belum tentu terjadi. Daripada terus-menerus bertahan di pemerintahan yang ternyata dekat dengan aib dan kemunafikan, mundur dengan legowo adalah pilihan terbaik. Tentu ini juga demi kebaikan masyarakat agar tidak terjadi pertentangan internal yang menjurus pada fitnah dan anarkis. Saya tidak perlu mengungkapkan alasan sebenarnya dibalik pengunduran diri suami. Biarlah semuanya nanti Allah SWT yang membukakan bahwa apa yang suami saya lakukan benar-benar untuk kebaikan masyarakat Garut sendiri!” Ujar Rani.

Keputusan R. Diky Chandra memang cukup menghebohkan. Mungkin baru pertama kali terjadi, ada seorang pejabat yang berani mengundurkan diri tanpa ada kesalahan. Biasanya pejabat di Indonesia baru mau lengser bila terbukti melakukan kejahatan korupsi atau terlibat kasus pornografi.

Masyarakat Garut pun berada di persimpangan dilematis, di satu sisi sangat menyayangkan keputusan ini sebab masih banyak harapan besar pada R. Diky Chandra untuk bisa memperbaiki kondisi pemerintahan di Kabupaten Garut. Di sisi lain, masyarakat juga bangga bahwa masih ada pemimpin yang berani bersikap tegas dalam menghadapi problema internal pemerintahan. Sikap tegas ini tentu menjadi pukulan hebat bagi birokrat Garut bahwa ada sesuatu yang salah dalam tata kerja mereka sehingga seorang Wakil Bupati menyatakan mundur.

Setelah pernyataan mundur Wakil Bupati disetujui oleh Gubernur dan Menteri Dalam Negeri, masyarakat Garut tidak hanya kehilangan sosok Diky Chandra, tetapi juga sosok Rani Permata yang telah menjadi ‘ratu hati warga Garut’. Tapi bagi Rani hal tersebut tidak menjadi soal. Ia dengan legowo akan menerima apapun keputusan atas pernyataan pengunduran diri sang suami.

”Bagi saya berbakti pada masyarakat tidak harus melalui kedudukan saya sebagai istri pejabat. Ada banyak jalan yang bisa dilakukan. Dengan kembali menjadi rakyat biasa pun sebenarnya kita bisa berperan. Apalagi selama ini saya beraktifitas sosial lebih banyak menggunakan dana pribadi. Jadi tidak duduk di posisi pemerintahan pun tetap bisa berkarya!” papar Rani.

Meskipun tidak lagi menjadi istri Wakil Bupati, Rani tetap tidak akan melepaskan tanggungjawabnya sebagai aktifis sosial. ” Masyarakat Garut sudah menjadi bagian dari hidup saya, tidak mungkin saya tinggalkan begitu saja. Saat ini saya menjabat posisi di beberapa lembaga sosial, misalnya sebagai Ketua Yayasan Thalasemia Indonesia Cabang Garut dan Pendiri Lembaga Konsorsium Gerakan Rela untuk Mereka. Saya malah berniat meningkatkan cakupan aktifitas tidak hanya di Garut, tapi juga di seluruh Indonesia kalau mungkin!”

Tekad ini dibuktikan dengan terpilihnya Rani sebagai salah satu dari sedikit tokoh di Indonesia yang menerima Penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial (SLKS) dari Presiden RIatas perannya di bidang sosial. Rani juga terpilih untuk mewakili Garut (selaku ketua Konsorsium Gerakan Rela untuk Mereka dan ketua YTI cabang Garut) untuk menghadiri peringatan hari ibu bersama Presiden RI, Ibu Ani Yudhoyono, Wakil Presiden RI, dan Ibu Herawati Boediono, di Balai Kartini Jakarta pada tanggal 22 Desember 2011.

Rani memahami sepenuhnya bahwa mungkin apa yang telah ia lakukan bersama sang suami belumlah ada apa-apanya bagi masyarakat Garut. Tapi ia tetap berharap, ”Mudah-mudahan apa yang kami rintis di Garut bisa terus dikembangkan sehingga harapan kami bahwa suatu saat Garut bisa menjadi salah satu Kabupaten yang adil, makmur dan sejahtera bisa tercapai!” kata Rani mengakhiri pembicaraan.()

 Sumber Tulisan: Buku “Garut Top Women” karya Elie Mulyadi, 2012

 edit11